CIANJUR, – Sebuah epik gotong royong modern, didanai sendiri hingga nyaris setengah miliar rupiah, sedang ditorehkan oleh warga Desa Cikancana, Kabupaten Cianjur. Lebih dari 100 orang bahu-membahu menjadi ninja pembasmi banjir, dengan misi mulia: mengeruk dan membersihkan saluran irigasi vital sepanjang 10 kilometer yang menjadi nadi pertanian dan nyawa pencegah bencana.
Yang menggetarkan, aksi kolosal ini murni lahir dari kesadaran dan kocek warga. Dana terkumpul Rp 400 juta, semuanya dari urunan masyarakat, tanpa sepeser pun menunggu anggaran pemerintah. Sebuah bukti nyata kekuatan modal sosial yang menyala-nyala.
Sejak dua hari lalu, Irigasi Batu Sahulu berubah menjadi pusat gravitasi solidaritas. Dipimpin langsung oleh Kepala Desa Cikancana, H. Nanang, para warga dengan peralatan sederhana—cangkul, sabit, dan semangat baja—membabat rumput liar dan mengusir lumpur yang menyumbat aliran. Di tengah terik matahari dan aroma tanah basah, yang terdengar justru gelak tawa, obrolan hangat, dan komando penuh semangat.
"Ini murni swadaya dan kesadaran warga. Tidak ada anggaran dari manapun. Semua dari kantung masyarakat sendiri yang kami kumpulkan secara gotong royong," tegas H. Nanang dengan mata berbinar, Sabtu (10/1/2026). "Ini bukan sekadar kerja bakti, ini investasi untuk anak cucu kami. Kami akan lanjutkan setiap hari sampai selesai, semua sukarela tanpa upah."
Aksi ini jauh melampaui kerja bakti biasa. Ini adalah strategi mitigasi bencana yang cerdas dan mandiri, lahir dari kearifan lokal. Saluran irigasi yang tersumbat selama ini adalah biang kerok banjir dan tanah longsor di musim hujan. Dengan membersihkannya, warga secara cerdas membangun "jalan tol" bagi air, mengalihkannya dari permukiman dan lereng yang rapuh.
"Jika saluran lancar, air hujan punya alur yang jelas. Tidak meluap ke rumah warga dan tidak meresap berlebihan ke tebing. Ini pencegahan paling nyata yang bisa kami lakukan dengan tangan kami sendiri," papar seorang tokoh masyarakat sambil menyeka keringat.
Proyek raksasa rakyat ini menargetkan pembersihan total 10 km dari total 25 km panjang irigasi. Tahap pertama membentang dari Kampung Cisalak hingga Kampung Bangbayang, dan akan tersambung hingga ke Desa Majalaya. Kesiapan ini tak hanya menjadi tameng dari bencana, tetapi juga akan kembali menghidupkan ribuan hektar sawah yang selama ini kekurangan air.
Aksi swadaya bernilai ratusan juta ini telah mengubah Irigasi Batu menjadi lebih dari sekadar saluran air. Ia kini adalah monumen hidup semangat "pukul rata" dan kemandirian warga Desa Cikancana. Sebuah pelajaran mahal tentang gotong royong dan kepedulian lingkungan, yang tidak dirumuskan dalam rapat, tetapi diwujudkan di setiap jengkal tanah yang dikeruk, di setiap tetas keringat yang jatuh.
Mereka membuktikan, keselamatan dan kemandirian sebuah komunitas bisa dimulai dari langkah nyata, tanpa selalu berharap pada bantuan dari luar. Di Cikancana, warga bukan lagi menunggu uluran tangan, tetapi berjabat tangan untuk menyelamatkan diri mereka dan masa depan anak cucu.
Najib/AS
