Sukabumi, - Ada sebuah wilayah, di kabupaten sukabumi yang merupakan penyanggah resapan air kota kota di bawahnya .kecamatan cikidang dan sejarah panjang dulunya sempat terkenal dengan pabrik produsen getah perca legendaris peninggalan Belanda sejak 1885 (aktif 1921), yang mengolah daun Palaquium oblongifolium menjadi bahan baku industri premium. Produknya berupa lempengan getah berkualitas tinggi yang digunakan untuk kabel bawah laut, bola golf, dan alat kesehatan,
Gutta Percha Tjipetir bukan hanya kejayaan cikidang tapi juga bentuk bahwa cikidang bisa meningkatkan kesejahteraan di masyarakat dengan tidak merusak lingkungan dan tetap menjadi penyanggah kota lain sebagai resapan air karna pohon karet dan teh di massa lalu menampung air dan merawat tanah ,
Ekosistem asri lahan basah yang menceritakan kisah-kisah.
Ketika tanah tidak lagi "diam"
Cikidang , tanah tidak terbentang di bawah kaki kita seperti bidang datar yang statis.
Bumi bernapas mengikuti pergantian musim. Di musim kemarau, bumi retak seperti prasasti kuno.
Saat musim hujan, tanah akan ambles, memberi jalan bagi suara air.
Pemandangan wilayah cikidang yang eksotis
Air lebih dari sekadar air. Air membawa lumpur, biji-bijian, dan bahkan kenangan akan Sungai citarik yang mulai menyusut airnya karna alih fungsi lahan dan tanaman yang merusak ekosistem tidak menyerap air menjadikan tanah cikidang tandus
Di sini, batas antara darat dan air menjadi jurang pemisah . Seperti batas antara manusia dan alam, yang seharusnya tidak pernah dipisahkan. Karna tataman yang tidak tepat secara geografis , sawit, pisang dan tanaman jangka pendek tidak tepat di tanam di cikidang yang berbukit membuat kesuburan tanah berkurang , daya sanggah air yang menjadi tulang pungung kota kota di bawah cikidang mengalami banjir karna tidak lagi menjadi daerah resapan air ,
"Kondisi masyarakat yang sangat prihatin " zona termiskin terextrim
Masyarakat cikidang hidup di tengah ketidak pastian lahan , mereka adalah rakyat indonesia yang harusnya punya hak untuk hidup sejahtera , wilayah yang di kuasai HGU - HGU seperti PTPN dan swasta menjadikan masyarakat tidak bisa bertani bahkan untuk membangun rumahpun terpaksa mereka membangun di tanah negara , karna mereka berharap negara hadir di tengah problem yang di alami masyarakat cikidang hari ini , ada 6 desa di mana masyarakat bertempat tinggal dan bercocok taman di lahan negara , dari 6 desa jumlah masyarakat ada 1600 KK lebih ( kartu keluarga ) yang memanfaatkan tanah negara sebagai tempat di mana tidak ada lagi tempat yg bisa mereka gunakan , mereka menilai tanah negara adalah merurupakan tanah rakyat , mereka selalu mengingat kata kata bapak presiden indonesia bapak prabowo yang selalu berpesan UUD 1945 pasal 33
kembali lagi.
"memeriksa" apakah reforma agraria bisa segera sampai ke kecamatan cikidang , rakyat yang merupakan warga negara indonesia serta ekosistem butuh jawaban dan kebijakan demi kesejahteraan .
tidak berbicara, tetapi kehadiran atau ketidakhadirannya adalah sebuah jawaban.
Cikidang adalah salah satu lahan basah penting di kabupaten sukabumi dan di tinggkat nasional , konsesi lahan harus mulai di tata demi keadilan di masyarakat terletak pada "sertifikasinya," dan pembinaan pasca pemberian hak atas alas tanah bahwa tempat ini masih memberikan kesempatan bagi warga negara yang tinggal di cikidang untuk hidup layak dan sejahtera untuk memperbaiki zona termarjinalkan , dan status termiskin terextrim
Musim panen yang tidak jelas
Cikidang di mana masa-masa ketika lahan basah dianggap sebagai "tanah tandus," yang membutuhkan reklamasi dan eksploitasi. Tetapi kemudian, alam sendiri "bersuara": ketika burung-burung pergi, ketika air tidak dapat lagi ditampung, ketika tanah menjadi tandus.
Saat ini, cikidang adalah hasil dari perjalanan pembelajaran ulang: mempelajari cara mengembalikan ritme alami tanah dan air.
Berpikir terbuka: Jangan "mengelola" alam seperti Anda mengelola sebuah mesin.
Ada cara pandang lama: memandang ekosistem sebagai sesuatu yang harus dikendalikan, diatur, dan dioptimalkan. Tetapi cikidang menawarkan perspektif yang berbeda:
Ini bukan tentang mengendalikan air, tetapi tentang memahaminya.
Ini bukan tentang memberantas sawit tetapi tentang memahami peran mereka.
Tujuannya bukan untuk masyarakat cikidang saja , tetapi untuk menciptakan kondisi yang mendorong mereka untuk ingin kembali berkontribusi terhadap negara dalam program ketahanan pangan , mengentaskan kemiskinan extrim dan menjaga
Ekosistem yang sehat bukanlah ekosistem yang "rapi", melainkan ekosistem yang cukup kompleks untuk menyeimbangkan dirinya sendiri.
Manusia - bagian dari ekosistem
Cikidang orang-orang hanya menjadi penonton. Di tanah sendiri melihat konsesi lahan HGU yang tidak efektif dan tidak tepat fungsi apalagi HGU banyak yang tidak mengindahkan intruksi bapak presiden dan mereka tudak membanyar HGU tesebut dari 2009 ini adalah kerugian negara yang tidak bisa di biarkan , beberapa kajian masyarakat bisa berkontribusi terhadap negara dan menyumbang Pendapatan bagi negara dengan menjalankan reforma agraria ... bukan hanya "kesejahteraan ," tetapi juga mata rantai ketahanan pangan nasional di tengah ketidak pastian global saat ini reforma agrasia harus di jalankan guna memacu pertumbuhan ekonomi dan integral dalam ekosistem.
Keputusan untuk melepaskan air lebih awal atau lebih lambat, metode pertanian di zona penyangga, aktivitas pariwisata … semua dapat mengubah seluruh “simfoni ekologis.”
Dan ketika kita memahami hal itu, kita berhenti menjadi "tuan," dan menjadi sahabat.
Cikidang - ruang kelas tanpa papan tulis.
Jika Anda membawa ruang kelas ke wilayah cikidang mungkin Anda tidak memerlukan papan tulis atau kapur. Sekumpulan burung yang terbang di atas kepala, menyentuh lumpur lembut di bawah kaki, dan mendengarkan angin berdesir melalui ladang alang-alang sudah merupakan pelajaran tersendiri.
Pelajaran tentang kesabaran alam.
Pelajaran tentang kerapuhan keseimbangan ekologis.
Dan pelajaran tentang tanggung jawab manusia.
Kembali ke kejayaan cikidang
Cikidang tempat untuk "berwisata".
Ini adalah tempat untuk mendengarkan suara bumi, mendengar air menceritakan kisahnya, dan merenungkan diri sendiri.
Di tengah perkembangan pesat dan angka pertumbuhan yang melambung tinggi, masih ada sudut tenang yang mengingatkan kita: Hidup tidak berasal dari kepemilikan, tetapi dari pelestarian dan harmonisasi.
Dan terkadang, hal terbaik yang dapat dilakukan manusia untuk alam… menjaga, merawat dan memanfaatkan dengan baik sebagai warga negara.
Lys
