CIANJUR, – Hampir empat tahun pasca gempa bumi yang meluluhlantakkan Cianjur pada 2022, ironi masih menyelimuti dunia pendidikan di Kampung Cibalukbuk, Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka. Sebanyak 52 siswa Sekolah Dasar Karyamukti terpaksa menimba ilmu di gedung yang nyaris rubuh: dinding retak, atap bocor, ruang gelap gulita, dan sama sekali tidak memiliki fasilitas toilet.
Kondisi ini bukan hanya membahayakan keselamatan jiwa, tetapi juga telah mencederai hak dasar anak atas pendidikan yang layak dan manusiawi.
Berdasarkan pantauan di lapangan, dari empat ruangan yang tersisa, satu ruang digunakan sebagai kantor, satu ruang lainnya beralih fungsi menjadi gudang kursi rusak. Akibatnya, tiga kelas (IV, V, dan VI) harus digabung hanya dalam satu ruang belajar yang sempit, pengap, dan minim penerangan.
Guru kelas V, Elian Syahudin, mengungkapkan bahwa kerusakan ini merupakan dampak langsung gempa 2022 yang diperparah oleh pergeseran tanah. Pondasi bangunan kini terlihat miring, menciptakan kekhawatiran besar akan potensi ambruk sewaktu-waktu.
"Awalnya ada empat lokal. Kini satu lokal tidak bisa digunakan. Kekhawatiran kami, jangan sampai terjadi hal yang tidak diinginkan karena kondisi sekolah memang sudah tidak layak," ujar Elian, Jumat 10 April 2026.
Fakta yang lebih memilukan dan mencerminkan kegagalan pemenuhan standar pelayanan minimal adalah ketiadaan toilet. Para siswa, yang sebagian besar masih duduk di bangku kelas 1 hingga 6, tidak memiliki akses ke jamban yang sehat. Setiap kali hendak buang air besar atau kecil, mereka terpaksa turun ke aliran sungai di belakang sekolah.
Kondisi ini tidak hanya membahayakan kesehatan dan keselamatan anak dari risiko tenggelam atau penyakit kulit, tetapi juga melanggar Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 28H tentang hak atas lingkungan hidup yang baik serta Peraturan Pemerintah tentang Standar Sarana Prasarana Sekolah.
Kritik tajam mengarah pada Pemerintah Kabupaten Cianjur dan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora). Elian mengakui bahwa pihak sekolah telah berkali-kali mengajukan permohonan perbaikan, terakhir dalam rapat kepala sekolah November 2025.
Yang menjadi masalah, meskipun petugas dinas sempat melakukan peninjauan langsung dan melihat sendiri kondisi "mengkhawatirkan" tersebut, hingga berita ini diturunkan belum ada satu pun tindak lanjut konkret berupa perbaikan atau pembangunan ulang.
"Kami berharap pemerintah daerah lebih mengutamakan skala prioritas. Bukan hanya janji, tapi aksi nyata," tegas Elian.
Sementara itu, dua siswi kelas VI, Denia dan Sella, tidak bisa menyembunyikan rasa takut mereka. Setiap kali hujan turun, air merembes dari atap yang bocor, sementara suara gemuruh petir kerap membuat mereka berteriak panik karena khawatir bangunan segera roboh.
"Kalau hujan suka bocor, terus takut bangunannya roboh. Belajarnya juga digabung sama kelas lima. Mudah-mudahan segera dibangun," ujar mereka polos.
Dengan hanya 6 tenaga pendidik, 1 kepala sekolah, dan 52 siswa yang terus waspada setiap hari, SD Karyamukti adalah bom waktu yang siap meledak. Jika terjadi gempa susulan atau angin kencang, bukan tidak mungkin nyawa anak-anak ini menjadi taruhan.
Pemerintah Kabupaten Cianjur tidak punya alasan untuk menunda lagi. Ini bukan soal renovasi biasa, tetapi soal penyelamatan generasi. Jangan sampai kelengahan birokrasi berujung pada tragedi kemanusiaan di kemudian hari.
Nang
