BSMoBSMlBSYlTpG8Tfd5TfM5BA==

Dievaluasi! Program MBG di Cianjur Dikritik Warga: Semangka Mentah, dan Porsi Tak Sesuai Kebutuhan


CIANJUR, – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang untuk menekan angka stunting dan membantu pemenuhan gizi ibu hamil serta balita, justru menuai kritik tajam dari warga Desa Babakankaret, Kecamatan Cianjur. Keluhan utama menyangkut kualitas bahan pangan yang tidak layak konsumsi serta ketidakpastian jadwal distribusi.


Para penerima manfaat, yang terdiri dari ibu hamil, ibu menyusui (bumil-busui), dan balita, mengaku kecewa setelah menerima jatah MBG periode lima hari pada Sabtu 11 April 2026. Padahal, biasanya pembagian dilakukan setiap hari Kamis bahkan seharusnya di distribusikan setiap hari.


Keluhan paling kritis datang dari kondisi buah semangka yang dibagikan. Dalam pantauan di lapangan, puluhan buah semangka dengan berat sekitar satu kilogram per buah masih berwarna pucat dan terasa keras saat ditekan, indikasi jelas buah belum matang.


"Semangkanya mentah, dalamnya putih. Anak balita mana bisa makan? Ini untuk konsumsi anak usia dini, masa diberi buah yang belum layak panen?" ujar salah satu ibu balita penerima manfaat, dengan nada kecewa.


Adapun rincian porsi yang di terima:


Untuk ibu hamil dan menyusui:


· Susu formula 150g

· Buah lengkeng sebanyak 8 butir

· Semangka (1 buah, kondisi mentah)

· Kue bolu lapis 1 roll


Untuk Balita:


· Biskuit 1 kotak @20g

· Susu formula 150g

· Roti harga eceran Rp2.000

· Semangka (1 buah, kondisi mentah)


Selain semangka, warga juga menyoroti porsi lengkeng yang hanya 8 butir untuk lima hari, serta roti dan biskuit yang dinilai terlalu kecil jika dibandingkan dengan kebutuhan gizi harian anak usia dini.


Menanggapi protes warga, Brian Tama, perwakilan dari yayasan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) selaku pengelola dapur MBG di wilayah tersebut, menyampaikan permohonan maaf.


"Iya, kami menerima laporan adanya semangka mentah. Sejujurnya, buah tersebut sudah melalui proses pengecekan awal oleh tim kami. Namun kejadian ini tentu menjadi catatan serius. Kami akan mengevaluasi seluruh prosedur sortir bahan baku ke depan," ujar Brian melalui pesan WhatsApp.


Brian mengakui bahwa semangka didatangkan dari suplayer dan mereka belanja di pasar induk. Pihaknya berkomitmen untuk mengganti seluruh semangka mentah dengan buah yang sudah matang dan akan segera mendistribusikan ulang dalam waktu dekat.


"Kami siap mengganti. Ini murni kelalaian sortir. Ke depan kami janji lebih teliti," tambahnya.


Kasus ini menyoroti celah serius dalam tata kelola program MBG yang seharusnya menjangkau kelompok rentan. Setidaknya ada tiga poin kritis yang perlu menjadi perhatian pemerintah dan pihak pelaksana:


1. Kontrol Kualitas Bahan Baku. Bagaimana mungkin buah yang masih mentah lolos pengecekan hingga sampai ke tangan warga? Prosedur sortir di tingkat dapur tampaknya masih lemah dan tidak melibatkan perwakilan masyarakat sebagai pengawas independen.

2. Kesesuaian Porsi dan Nutrisi. Pemberian lengkeng 8 butir untuk lima hari dan roti Rp2.000 untuk balita patut dipertanyakan efektivitasnya. Apakah nilai gizi yang dihasilkan sesuai standar kebutuhan anak usia 1-5 tahun? Jika tidak, program ini hanya akan menjadi simbol tanpa dampak signifikan terhadap penurunan stunting.

3. Ketidakpastian Jadwal. Distribusi yang semula Kamis berubah menjadi Sabtu tanpa sosialisasi menunjukkan buruknya manajemen logistik. Bagi ibu hamil dan balita, keteraturan asupan gizi sangat penting. Keterlambatan dan perubahan jadwal mendadak dapat mengganggu pola makan harian.


Warga berharap penggantian semangka mentah bukan sekadar formalitas. Mereka meminta adanya mekanisme pengawasan berbasis komunitas, di mana warga dilibatkan dalam mengecek bahan makanan sebelum didistribusikan.


"Jangan sampai program bagus seperti MBG jadi rusak karena hal-hal kecil seperti sortir buah. Ini menyangkut kesehatan anak-anak kami," tegas salah satu tokoh masyarakat setempat.


Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari Dinas Ketahanan Pangan dan Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur terkait temuan lapangan ini.

Nang

Type above and press Enter to search.