Bangkalan, 5 April 2026 — Suasana Halal Bihalal Dinasti Cakraningrat Madura di Pendopo Ningrat Bangkalan tidak hanya diwarnai kehangatan silaturahmi, tetapi juga getaran kritik tajam melalui sebuah orasi budaya yang menggugah kesadaran kolektif. Dalam orasi tersebut, disampaikan kegelisahan mendalam atas semakin terkikisnya nilai-nilai original masyarakat Madura yang kini seakan tak berdaya di hadapan dominasi hegemoni logika pasar.
Dengan nada tegas dan penuh keprihatinan, sang orator Dinasti Madura menyoroti bahwa pergeseran ini bukan sekadar perubahan zaman, melainkan bentuk ketercerabutan identitas. Nilai-nilai luhur seperti kehormatan, loyalitas kekerabatan, serta etika sosial yang dahulu menjadi fondasi kehidupan masyarakat, kini perlahan direduksi menjadi komoditas—ditimbang, dinegosiasikan, bahkan diperjualbelikan dengan nilai yang sangat rendah.
“Pasar hari ini tidak hanya mengatur ekonomi, tetapi juga mulai mendikte cara berpikir, cara bersikap, bahkan cara kita memaknai harga diri. Kita sedang menyaksikan bagaimana nilai diwariskan bukan lagi untuk dijaga, melainkan untuk ditukar,” tegasnya di hadapan hadirin.
Contoh kecil adalah Pakaian adat Madura yang selalu di istilahkan dengan "Sakera-Marlena", padahal keduanya adalah manusia yang terlahir di Pasuruan dan Marlena sendiri adalah bukan sosok perempuan yang baik yang layak menjadi figur, ia bermain api ketika suaminya sedang dipenjara, dan terlebih lagi ia adalah orang Pasuruan bukan tanah nagari Madura, ucap sang orator.
Lebih jauh, orasi tersebut secara kritis menyinggung fenomena pragmatisme yang menjalar di berbagai lapisan masyarakat. Keputusan-keputusan yang dahulu dilandasi moral dan adat, kini kerap ditentukan oleh hitung-hitungan untung rugi. Dalam kondisi ini, budaya tidak lagi menjadi pedoman, melainkan sekadar ornamen—ditampilkan saat perlu, ditinggalkan saat dianggap menghambat kepentingan.
Yang lebih mengkhawatirkan, kritik tersebut juga diarahkan pada sikap elitis sebagian kalangan yang dinilai justru abai terhadap tanggung jawab kulturalnya. Alih-alih menjadi penjaga nilai, mereka disebut turut larut dalam arus materialisme, sehingga mempercepat lunturnya jati diri kolektif.
Orasi ini menjadi pengingat keras bahwa ancaman terbesar terhadap budaya bukanlah dari luar, melainkan dari dalam—ketika masyarakatnya sendiri mulai kehilangan keberpihakan pada nilai yang diwariskan leluhur.
Momentum Halal Bihalal Dinasti Cakraningrat Madura pun berubah menjadi ruang refleksi yang lebih dalam: apakah tradisi hanya akan dipelihara sebagai simbol seremonial, atau benar-benar dihidupkan sebagai pedoman hidup?
Pertanyaan ini menggantung, menuntut jawaban nyata dari seluruh elemen masyarakat.
Red
