CIANJUR, – Sore itu, Alun-alun Cianjur tidak seperti biasanya. Puluhan lampu mulai menyala saat matahari perlahan tenggelam. Dari panggung Amphitheater, alunan haleuang khas Sunda mengalun lembut. Bukan sekadar ruang publik biasa — Alun-alun Cianjur pada Minggu (24/5/2026) benar-benar bertransformasi menjadi pusat budaya, keamanan, dan kepedulian sosial.
Mengusung tema "Alun-alun Gelar Budaya Sunda" , acara yang berlangsung dari pukul 16.00 hingga 21.00 WIB ini berhasil menyedot perhatian warga dari berbagai kalangan. Anak-anak, remaja, hingga orang tua larut dalam sajian musik dari TERA Musik yang memadukan pop Sunda kontemporer dengan nilai-nilai tradisional.
"Kami ingin alun-alun ini hidup kembali. Bukan cuma tempat nongkrong, tapi juga tempat belajar budaya, merasa aman, dan berbagi kebahagiaan," ujar Erlin Marlina, Pelaksana Tugas (Plt.) Pengurus Alun-alun Cianjur.
Yang menarik, di balik kemeriahan acara, Erlin mengungkapkan sejumlah terobosan penting yang telah dilakukan pengelola. Salah satunya adalah pemasangan kamera CCTV di dua titik strategis.
"CCTV baru terpasang dua titik. Rencananya akan kami tambah hingga lima titik di seluruh kawasan. Ini komitmen kami agar warga yang olahraga, jualan, atau sekadar duduk-duduk merasa aman," jelas Erlin.
Tak hanya itu, penerangan yang sebelumnya menjadi keluhan warga kini telah ditingkatkan secara signifikan.
"Sejak lampu terang, warga tidak ragu datang hingga malam. Ini juga mendukung kegiatan seni yang biasanya berlangsung selepas magrib," tambahnya.
Dalam sambutannya, Erlin secara khusus menyebut para petugas kebersihan sebagai "pahlawan alun-alun yang sesungguhnya."
"Mereka bekerja tanpa kenal lelah. Tapi dukungan pengunjung juga paling utama. Jangan buang sampah sembarangan. Sampah yang sedikit, kalau dikumpulkan ribuan orang, akan jadi masalah besar," tegasnya.
Pengelola juga berencana menata ulang area UMKM agar lebih rapi dan estetis. "Kami ingin semua nyaman, pedagang bergairah, dan pengunjung betah," ujar Erlin.
Ramlan Rahmatullah, selaku Seksi Event Organizer, menjelaskan bahwa acara ini adalah edisi kedua dari rangkaian Alun-alun Gelar Budaya Sunda.
"Kami tampilkan silat, band TERA dengan pop Sunda, dan yang paling istimewa: maenpo — pencak silat khas Cianjur," ujar Ramlan.
Menariknya, lokasi Alun-alun Cianjur ini merupakan Plaza Maenpo yang akan menjadi penguat semangat untuk terus mengedukasi masyarakat.
"Kami selaraskan dengan program Pemprov Jabar dan Pemkab Cianjur. Setiap minggu, akan ada tiga gelar budaya: ngaos (mengaji dengan seni suara Sunda), mamaos (seni tembang/musik), dan maenpo (pencak silat)," jelas Ramlan.
Tak hanya hiburan, acara ini juga menjadi momen berbagi. Santunan kepada anak-anak yatim digelar di sela-sela pertunjukan.
"Ini bentuk perhatian kami kepada masyarakat kecil di sekitar. Alun-alun tidak hanya megah secara fisik, tapi juga hangat dengan kebersamaan," kata Erlin.
"Dengan kolaborasi antara pengelola, petugas, seniman, UMKM, dan masyarakat, saya yakin Alun-alun Cianjur akan menjadi ikon peradaban Sunda yang modern, aman, bersih, dan berbudaya."
Malam itu, Alun-alun Cianjur bukan sekadar taman kota. Ia adalah panggung kebudayaan yang hidup, tempat orang merasa di rumah, dan ruang publik yang benar-benar milik rakyat. (Jib)

