CIANJUR, – Wajah baru menghiasi pusat Kota Cianjur. Alun-alun yang dulu kerap disebut semrawut kini berubah menjadi ruang publik yang tertata rapi, aman, dan menyentuh sisi kultural Sunda. Sejumlah inovasi dihadirkan oleh pengurus sementara yang ditunjuk oleh PEMDA Cianjur Erlin Marlina, mulai dari pemasangan CCTV, seragam pangsi untuk petugas kebersihan, hingga alunan musik lagu-lagu Sunda dan juga tradisional yang kembali meramaikan malam akhir pekan.
Pengunjung yang datang pada Sabtu malam (23/52026) langsung disambut lampu penerangan yang terang merata. Suasana semakin hangat dengan alunan lagu-lagu sunda. Dua unit CCTV juga telah terpasang di titik strategis, membuat warga merasa lebih aman.
“Keamanan sekarang jauh lebih baik. Ada CCTV, jadi kami lebih tenang. Penerangan juga terang, enak buat jalan-jalan malam,” ujar Yanti, seorang warga Cianjur yang rutin berolahraga di alun-alun.
Yang tak kalah mencuri perhatian adalah penampilan tim kebersihan dan petugas lapangan. Mereka kini mengenakan seragam pangsi hitam khas Sunda, lengkap dengan ikat kepala. Penampilan itu bukan sekadar gaya, tapi bentuk penghormatan terhadap identitas budaya lokal.
“Petugas kebersihan adalah pahlawan sesungguhnya di alun-alun ini. Mereka layak mendapat perhatian dan kebanggaan,” kata Erlin Marlina, pengurus sementara Alun-Alun Cianjur, saat ditemui di sela-sela kegiatan, Sabtu (23/5/2026).
Menurut Erlin, kebersihan menjadi prioritas utama. Pedagang kaki lima yang berjajar rapi pun ikut menjaga area masing-masing tanpa diminta. Tak heran jika sampah hampir tak terlihat meski pengunjung padat.
Suasana malam Minggu dan malam Senin kini berbeda dari sebelumnya. Musik yang diputar tak lagi lagu-lagu modern keras, melainkan tembang Sunda yang meneduhkan. Bahkan sesekali digelar pertunjukan seni Sunda kecapi suling yang menyedot perhatian anak muda.
Warga pun menyambut positif perubahan ini. “Dulu ramai tapi kumuh. Sekarang asri dan adem. Budaya Sundanya kental, jadi kita makin cinta kampung sendiri,” tutur Asep, salah satu pengunjung setia.
Dengan lima pilar perubahan—keamanan CCTV, kebersihan terjaga, penguatan budaya Sunda, penerangan lebih baik, dan perhatian khusus pada tim kebersihan—Alun-Alun Cianjur perlahan menjelma menjadi kebanggaan baru warga Priangan Timur.
Erlin menambahkan, pihaknya akan terus mengevaluasi dan menambah fasilitas pendukung. “Kami ingin alun-alun ini menjadi ruang publik yang nyaman, berbudaya, dan menghargai siapapun, termasuk mereka yang bekerja membersihkan area ini setiap hari.”
Sorot lampu, musik sunda, senyum petugas berseragam pangsi, dan rasa aman berkat CCTV. Alun-Alun Cianjur kini bukan hanya taman kota, tapi cerminan harmoni antara modernitas dan tradisi Sunda.
Jib
