CIANJUR, panambur.com – Atraksi Kuda Kosong pada Cianjur Fest 2026, Sabtu (22/8/2026), sempat memicu kepanikan setelah seekor kuda menendang sejumlah penonton. Meski begitu, suasana tetap terkendali dan tradisi berlangsung khidmat.
Pemangku adat Kuda Kosong, Ustad Dadang Ahmad Fajar, menjelaskan insiden tersebut tidak mengurangi makna penting tradisi. Menurutnya, Kuda Kosong bukan sekadar pertunjukan, melainkan fakta historis yang menjadi edukasi masyarakat.
“Kuda itu adalah hadiah dari Raja Mataram. Ini menunjukkan Cianjur bersahabat dengan Mataram, bukan jajahan. Itulah SAWAWA, kesepadanan,” ujarnya.
Makna “kosong” pada kuda terkait penghormatan adik kepada kakaknya, Dalem Cianjur, yang menolak menunggangi kuda untuk sang kakak. Tradisi ini mengandung tiga unsur filosofis: historis, pedagogis, dan sosiologis, termasuk otokritik bagi pemimpin agar menyejahterakan rakyat.
"Simbol kukus atau aroma, tegasnya, bukanlah mistis, melainkan pengingat bagi pemimpin: “Lamun rek jadi Bupati di Cianjur kudu nyebarken hela wawangian”, pemimpin harus menyebarkan keharuman dan jasa bagi daerahnya", pungkasnya.
Nang.
