CIANJUR, - Di tengah hempasan musim kemarau yang kerap menjadi momok bagi petani di dataran tinggi Cianjur, sebuah narasi kebersamaan justru lahir dari bencana. Bukan sekadar aksi sosial, perbaikan saluran irigasi Jatun yang menghubungkan Desa Mangunkerta dan Sarampad, Kecamatan Cugenang, pada Rabu (2/9/2026), menjelma menjadi simbol resiliensi kolektif masyarakat agraris.
Ratusan hektar sawah sempat terancam gagal panen (puso) ketika tebing setinggi 15 meter dengan panjang longsoran 10 meter menutup aliran utama irigasi. Ancaman ini bukan sekadar soal air, melainkan ancaman terhadap stabilitas ekonomi pedesaan dan rantai pasok pangan lokal di wilayah hulu Cianjur.
Yang menarik dari respons darurat ini adalah kecepatan mobilitas struktur sosial di tingkat tapak. Tidak menunggu instruksi panjang dari kabupaten, Tim Mitra Cai (P3A) Desa Sarampad bergerak kilat. Mereka berkolaborasi dengan para Ketua Gapoktan dan kelompok tani di Desa Mangunkerta.
Koordinator Lapangan (Korlap) dari BPP Kecamatan Cugenang, Kusmana, menegaskan bahwa peran penyuluh saat ini harus bertransformasi. "Kami bukan hanya memberi materi di balai, tapi harus menjadi katalisator gerakan. Ketika irigasi rusak, kami harus turun. Air adalah modal utama produksi," ujarnya di lokasi kejadian.
Kehadiran unsur TNI dari Babinsa kedua desa, Bapak Hendrik Mulyana dan Pelda Endang, di tengah lapangan memberikan dimensi berbeda. Dalam konteks bela negara, menjaga ketahanan pangan adalah bentuk pertahanan non-militer. Kehadiran mereka secara fisik membakar semangat warga, menunjukkan bahwa sinergitas TNI-Rakyat tidak luntur di tengah modernisasi.
Kerusakan irigasi Jatun bukan kali pertama terjadi. Menurut penuturan Aep, pengurus saluran air setempat, kondisi tebing yang labil seringkali menjadi perhatian. Namun, keterbatasan anggaran perbaikan infrastruktur menjadi kendala klasik.
"Kami berharap ada solusi struktural dari pemerintah, bukan hanya perbaikan darurat. Tapi untuk saat ini, kami tidak bisa diam. Padi di sawah menunggu," ujar Aep dengan nada penuh harap.
Di sinilah gotong royong berperan sebagai social glue (perekat sosial). Puluhan warga bahu-membahu mengangkut material, menyusun bronjong bambu, dan membersihkan sedimentasi. Aktifitas ini bukan hanya memperbaiki fisik saluran, tetapi juga memperkuat modal sosial (social capital) di antara dua desa yang kerap terpisah oleh batas administratif.
Aksi fisik diakhiri dengan tradisi makan liwet bersama. Di meja panjang yang sederhana, duduk bersebelahan para petani, Babinsa, penyuluh, dan perangkat desa. Dalam budaya Sunda, ritual makan bersama bukanlah sekadar kenyang, melainkan simbol silih asah, silih asih, silih asuh (saling mengasah, mengasihi, dan mengasuh).
Dengan saluran yang kembali mengalir, diharapkan debit air dapat mencukupi fase generatif padi. Keberhasilan ini diharapkan menjadi pilot project bagi desa-desa lain di Cugenang bahwa kolaborasi lintas sektor (petani, TNI, dan penyuluh) adalah kunci adaptasi terhadap perubahan iklim.
Namun, pesan penting tersirat dari peristiwa ini: pemerintah daerah diharapkan tidak hanya menjadi penonton kebijakan. "Kami berharap kerja sama ini tidak berhenti di sini. Ke depan, kami butuh normalisasi sungai yang permanen," pungkas Aep menutup perbincangan.
Kegiatan yang berlangsung penuh keakraban ini menjadi bukti bahwa di tengah keterbatasan infrastruktur, kekuatan utama bangsa Indonesia masih terletak pada gotong royongnya. Air yang mengalir kembali ke sawah bukan hanya menyelamatkan padi, tetapi juga menjaga denyut nadi kehidupan dua desa. (Jib)

