CIANJUR, panambur.com — Musim kemarau kembali membawa dampak buruk bagi pembudidaya ikan di perairan Jangari, Kabupaten Cianjur. Fenomena upwelling yang terjadi beberapa hari terakhir memicu kematian massal ikan budidaya, khususnya ikan mas dan ikan bawal. Ribuan ekor ikan mengapung di permukaan kolam dalam kondisi mati, Selasa, 7 September 2026.
Salah satu pembudidaya, Ikin (50), menuturkan ikan miliknya mulai mati secara bertahap dari bagian pinggir kolam. Ia menyebut hampir seluruh ikan ukuran konsumsi tidak selamat. “Hampir semua ikan ukuran konsumsi mati. Yang tersisa paling bibit, masih kecil. Dari pinggir semua ini mabok,” ujarnya saat ditemui di lokasi.
Menurut Ikin, kejadian ini bukan hal baru bagi warga Jangari. Setiap kali memasuki musim kemarau dengan debit air yang menyusut dan angin kencang dari arah selatan, fenomena serupa hampir selalu muncul. “Wah, sering. Kadang setiap tahun ada satu kali mabok. Kemarau, air kecil, lalu angin dari selatan,” katanya.
Secara ilmiah, kondisi tersebut dijelaskan sebagai upwelling, yaitu peristiwa naiknya arus air dari dasar ke permukaan yang membawa perubahan suhu, kadar oksigen, dan zat lain. Perubahan mendadak ini membuat ikan budidaya stres dan akhirnya mati massal.
Dampak ekonomi yang dirasakan petani cukup berat. Untuk pembudidaya skala kecil, kerugian ditaksir mencapai sekitar Rp10 juta. Sementara pembudidaya skala besar bisa kehilangan ratusan juta rupiah dalam satu peristiwa. Kerugian itu mencakup modal bibit, pakan, hingga tenaga kerja yang sudah dikeluarkan.
Beban petani semakin bertambah karena harga jual ikan saat ini tidak stabil. Di sisi lain, harga pakan justru terus naik. Ikin menyebut harga pakan yang dulu masih di bawah Rp10 ribu per kilogram kini sudah tembus lebih dari Rp12 ribu. Sementara harga ikan di pasaran hanya berkisar Rp23 ribu per kilogram.
“Kondisinya sekarang serba sulit. Ikan mati kena cuaca, pas panen harga jatuh, tapi pakan malah naik terus,” ujar Ikin. Ia berharap ada kepastian harga yang lebih berpihak kepada petani agar tidak terus merugi dari dua sisi.
Keluhan serupa juga disampaikan ketua RT sekaligus petani setempat. Ia meminta pemerintah melalui dinas terkait turun langsung memberikan pendampingan dan penyuluhan. Menurutnya, petani butuh arahan konkret agar bisa mengantisipasi upwelling yang datang setiap tahun.
“Kalau dari pihak dinas, mohon perhatiannya buat petani. Kalau ada musibah begini, bagaimana kasih penyuluhan, bagaimana caranya. Intinya kasih solusi,” katanya.
Ia menambahkan, sejauh ini sosialisasi masih minim. Padahal pola kemunculan upwelling bisa diprediksi. “Biasanya kalau mabok bulan sekian, sebisa-bisanya petani ada pengarahan. Kalau bisa bulan ini jangan dulu tanam. Kita jaga, antisipasi. Biasanya bulan ini suka ada mabok,” ujarnya.
Menanggapi hal itu, Sekretaris Dinas (Sekdis) Peternakan, Kesehatan Hewan, dan Perikanan (DPKHP) Kabupaten Cianjur, angkat bicara, Erwin Syafrudin, membenarkan bahwa kematian ikan di Jangari disebabkan upwelling. Ia menjelaskan fenomena ini dipicu angin yang mendorong arus bawah naik ke permukaan, ujarnya kepada awak media, Kamis, 10 September 2026.
“Ini masalahnya bukan ada bubuk atau apa. Ini adanya upwelling diakibatkan adanya angin sehingga ada arus bawah yang naik,” kata Erwin. Ia menyebut pihaknya sudah melakukan sosialisasi dan imbauan kewaspadaan, termasuk terkait dampak El Nino.
Untuk membantu petani yang terdampak, dinas membuka skema bantuan bibit ikan. Bantuan dapat diajukan oleh kelompok pembudidaya melalui proposal atau surat permohonan ke pemerintah daerah.
“Semua petani difasilitasi selama mereka memiliki kelompok. Kelompok silakan mengajukan proposal. Kelompok yang terdampak bisa meminta bantuan bibit, nanti kita tindak lanjuti,” jelas Erwin.
Bantuan tidak hanya untuk keramba jaring apung (KJA), tetapi juga pembudidaya lain selama stok tersedia.
Terkait keamanan konsumsi, Erwin memastikan ikan di wilayah Cianjur masih berada dalam batas aman. Berdasarkan kajian sebelumnya, kandungan merkuri di perairan Cianjur tidak setinggi di Bandung Barat atau Jatiluhur.
Namun ia mengingatkan, pada musim kemarau kualitas air perlu diwaspadai karena zat dari dasar atau limbah bisa ikut terangkat saat debit air menurun.
Nang.

