Jakarta, — Sebuah momen langka dan penuh makna menyita perhatian ribuan peserta di acara Kopi Darat Nasional (KOPDARNAS) Forum Silaturahmi Rhoma And Soneta (FORSA) yang berlangsung di Bumi Perkemahan Ragunan, Jakarta Selatan, Minggu (26/4/2026).
Di sela-sela gelaran yang sarat dengan orasi kebangsaan itu, pertemuan dua insan dengan wajah serupa belahan jiwa mengubah kebetulan menjadi sebuah perlambangan hidup tentang kekuatan persatuan. Sambil menantikan penampilan Rhoma Irama bersama Soneta-nya pada jam 14.00 siang, kejutan manis datang lebih dulu.
Asha Syapa Dertiani (16), kader asal Cianjur, Jawa Barat, dan Rima Maharani (19), kader asal Lebak, Banten, bagaikan "pinang dibelah dua". Kehadiran mereka berdampingan di area tenda panitia tidak hanya menciptakan sensasi visual, tetapi juga menggugah kesadaran kolektif akan nilai-nilai luhur yang selama ini disuarakan oleh Raja Dangdut, H. Rhoma Irama.
"Saya merasa seperti bertemu dengan saudara yang hilang. Tapi ini bukan sekadar wajah yang mirip. Ini adalah pengingat nyata bahwa persaudaraan sejati tidak pernah dibatasi oleh peta domisili atau garis keturunan. Kami berbeda kampung, tetapi berdetak dalam irama yang sama, yaitu irama Soneta dan cinta pada tanah air," ujar Asha dengan suara bergetar haru, usai berpelukan dengan Rima di hadapan puluhan kader yang ikut terharu.
Sementara itu, Rima menambahkan bahwa momen ini adalah bentuk kecil dari keajaiban Indonesia. "Bayangkan, dari jutaan kader FORSA yang tersebar di seluruh nusantara, takdir mempertemukan kami di sini. Ini bukanlah kebetulan. Ini adalah pesan tersirat bahwa rakyat Indonesia, walaupun memiliki wajah dan latar belakang berbeda, pada dasarnya adalah saudara. Inilah yang selalu Bang Haji ajarkan: perbedaan adalah rahmat, bukan penghalang," tutur Rima dengan pandangan mata teduh namun penuh semangat.
Menanggapi fenomena yang menggetarkan suasana KOPDARNAS, H. Agus Chandra, SE, Ketua DPC FORSA Kabupaten Cianjur, menilai pertemuan Asha dan Rima harus menjadi pelajaran bagi seluruh kader.
"FORSA berdiri di atas tiga pilar utama: Islam, persaudaraan, dan nasionalisme. Kemiripan Asha dan Rima adalah analogi sempurna. Seperti dua nada yang berbeda tetapi jika dimainkan bersamaan menghasilkan harmoni yang indah. Ini menjadi pemantik bahwa di tengah gempuran isu perpecahan, kita harus tetap solid, seirama, dan satu jiwa: Indonesia," tegasnya di hadapan massa.
Tak sekadar menjadi tontonan, acara KOPDARNAS yang berlangsung dua hari itu juga diisi dengan bedah lagu-lagu kritis Soneta serta seminar kebangsaan yang mengupas pentingnya menjaga persatuan.
"Di era digital, simbol-simbol visual seperti ini memiliki kekuatan lebih dahsyat daripada seribu pidato. Wajah Asha dan Rima adalah ikon baru persatuan Indonesia," pungkas H. Agus Chandra.
Jib

