CIANJUR, – Hujan deras yang mengguyur kawasan hulu Gunung Batulawang pada Kamis sore 30 April 2026, sekitar pukul 17.40 WIB memicu banjir bandang di Kampung Ciseureuh, RT 01–02/RW 06, Desa Batulawang, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur. Air bercampur lumpur tiba-tiba meluap dari lereng dan menghantam permukiman warga di bawahnya.
Peristiwa berlangsung cepat. Aliran air dari atas membawa material tanah dan lumpur dalam volume besar, langsung masuk ke halaman dan ruang hunian warga. Sejumlah penghuni rumah sempat panik karena air menerobos masuk tanpa bisa dibendung.
Banjir bandang ini diduga dipicu oleh kombinasi faktor alam dan aktivitas manusia. Curah hujan ekstrem di kawasan hulu diperparah dengan maraknya pembukaan lahan perkebunan sayur di lereng gunung. Alih fungsi lahan dari kawasan bervegetasi rapat menjadi area perkebunan membuat tanah kehilangan kemampuan menahan air.
Kepala Desa Batulawang, Nanang Rohendi, menjelaskan bahwa debit air dari perkebunan di atas permukiman sangat besar saat hujan deras terjadi.
"Air tidak tertampung oleh saluran drainase yang ada. Akibatnya, air langsung masuk ke rumah-rumah warga dan merendam barang-barang di dalamnya," ujarnya, Jumat 1 April 2026.
Bencana ini berdampak pada 19 unit rumah warga. Air bercampur lumpur merendam perabotan rumah tangga dan menyebabkan kerugian material. Namun, hingga Jumat pagi, belum ada laporan korban jiwa dalam peristiwa tersebut.
Pasca-kejadian, aparat gabungan dari unsur Babinsa, Bhabinkamtibmas, pemerintah desa, Destana, dan pemadam kebakaran segera turun ke lokasi. Mereka melakukan pendataan serta membantu warga membersihkan lumpur yang menggenang di dalam rumah. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cianjur juga telah dilaporkan dan turut menangani dampak banjir.
Warga setempat menyebut banjir bandang serupa pernah terjadi, namun kali ini dinilai lebih parah. Eni (59), seorang warga, mengaitkan meningkatnya dampak bencana dengan semakin luasnya pembukaan lahan di kawasan atas.
"Ini sudah yang kedua kali. Dampaknya sekarang lebih terasa karena lahan di atas semakin gundul. Air dari atas membawa lumpur tebal ke kampung kami," tuturnya.
WH (64) juga menambahkan bahwa air datang hanya beberapa menit setelah hujan deras turun. "Air langsung naik. Gorong-gorong tidak mampu menampung. Di dalam rumah, ketinggian air mencapai 30 hingga 50 sentimeter," katanya.
Menurut WH, tanaman sayuran di lereng gunung tidak mampu menahan air sebaik pepohonan besar. Akibatnya, aliran dari hulu langsung deras dan membawa material lumpur ke pemukiman.
Warga berharap pemerintah daerah dan pusat segera mengevaluasi aktivitas pembukaan lahan di kawasan hulu, memperbaiki sistem drainase permukiman, serta mengambil langkah serius agar bencana serupa tidak terus berulang setiap musim hujan.
Nang

