MOJOKERTO – Perjuangan Walisongo Indonesia Laskar Sabilillah (PWI-LS) secara resmi menggelar kegiatan Pembaretan Komandan Laskar Sabilillah Skala Nasional, bertempat di situs bersejarah Pendopo Agung Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Sabtu (31/10/2026).
Kegiatan khidmat ini menjadi momentum strategis bagi jajaran Laskar Sabilillah untuk meneguhkan komitmen dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), sekaligus melestarikan jejak sejarah dan nilai-nilai luhur kebudayaan Nusantara.
Dalam sambutannya, tokoh utama PWI-LS, Gus Syaifulloh, menekankan bahwa peran Walisongo dalam dakwah Islam di Nusantara selalu bersinergi dengan penghormatan terhadap budaya lokal. Ia menyebut dakwah para Wali tidak dilakukan dengan cara merusak, melainkan melalui pendekatan yang inklusif.
“Suatu keistimewaan bagi saya berdiri di bumi NKRI sebagai penerus perjuangan dalam tafsir Walisongo. Islam datang ke sini dibawa oleh Walisongo dengan cara tidak merusak dan tidak menghilangkan budaya,” ujar Gus Syaifulloh di hadapan para anggota laskar.
Antisipasi Pemalsuan Sejarah
Lebih lanjut, Gus Syaifulloh memberikan penekanan khusus terkait pentingnya integritas sejarah bangsa. Ia mengecam keras segala bentuk pemalsuan fakta atau pembelokan narasi sejarah nasional oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.
“Orang yang mengaku cinta negaranya, tapi membelokkan sejarah, dia adalah pembohong. Jika cinta negaranya, kita wajib meluruskan sejarah agar generasi mendatang memahami perjalanan bangsa berdasarkan fakta yang dapat dipertanggungjawabkan,” tegasnya.
Pada kesempatan yang sama, organisasi juga mengklarifikasi posisi mereka terkait isu radikalisme. PWI-LS menegaskan bahwa pihaknya tidak memiliki agenda untuk menghalangi kegiatan keagamaan masyarakat. Namun, organisasi ini secara tegas menyatakan komitmennya untuk mengawal warisan sejarah dari tindakan yang dianggap merusak identitas bangsa.
Spirit Sumpah Palapa
Sementara itu, Muhammad Sikhu Rizal dalam sambutannya mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus merawat semangat persatuan. Ia mengingatkan kembali spirit Sumpah Palapa dari era Majapahit yang menjadi simbol pemersatu Nusantara.
“Saudara-saudara sekalian merupakan orang-orang yang memiliki sumpah yang luar biasa, yakni Sumpah Palapa, dalam rangka menyatukan seluruh Nusantara,” ujar Muhammad Sikhu Rizal.
Selain aspek persatuan, ia juga menyoroti pentingnya verifikasi situs-situs sejarah agar tidak terjadi penyimpangan. “Kita wajib menjaga peninggalan. Kami tidak ingin menghancurkan makam, tetapi kami berupaya memastikan tidak ada situs yang bukan makam namun dipaksakan seolah-olah menjadi makam,” pungkasnya.
Melalui agenda pembaretan ini, PWI-LS diharapkan mampu meningkatkan koordinasi internal serta menanamkan kesadaran kolektif anggotanya agar terus berkontribusi positif bagi bangsa dan negara dengan tetap berpijak pada fakta sejarah yang akurat.
Red

